Ceritapun
berlanjut dengan saling tanya tempat tinggal dan pekerjaan, dan ternyata cewek
bernama ‘Eka’ itu kelas XI di SMA N 1, kebetulan kos tempat q tinggal hanya
berjarak beberapa meter dengan sekolah itu jadi q tau. Setelah asik saling
balas sms dalam perjalanan pulang menggunakan angkot dari kantor, Eka mengatakan
“lagi nyari” dalam sebuah pesan sms yang ia kirim, dan q sempat g nyambung
dengan apa yang Eka maksud sebenarnya. Semakin di pancing, q semakin tau apa
yang Eka maksud, tapi q pura-pura g tau dan ingin Eka langsung bilang terus
terang, dan akhirnya Eka bilang “lagi nyari pacar” [kesempatan, hehehe]. Q
sempat bertanya kenapa Eka tidak mencari di sekolahnya, dan Eka hanya bilang
sempat suka sama kakak kelas, tapi Eka malu.
Sejak hari itu q
sering sms-an dengan Eka, bukannya mau serius tapi cuma perlu teman sebagai
penghibur karena hati q juga saat itu sedang sakit karena seorang cewek,
walaupun q tidak bilang sama Eka, dan mungkin Eka juga memang tak perlu tau. Beberapa
hari berlalu, masih saling sms tanpa bertatap muka, sampai terpikir oleh q
untuk mengajak ketemuan. Dari alasan yang dijadikan sebagai ‘tameng’ q tau Eka
adalah tipe cewek pemalu, jadi tidak perlu dijelaskan bagaimana susahnya diajak
ketemu, tapi Eka mau juga walau ketemuannya di sekolahnya.
Pada suatu pagi
yang cerah, sekitar lima hari sejak pertama saling sms, q datang ke sekolahnya
[q tetap diluar pagar sekolah] sambil menunggu dipinggir jalan. Lapangan
sekolah dan beberapa gedung sekolah itu terletak berdekatan dengan pagar
panjang yang menyusuri jalan di samping (atau depan) sekolah yang posisinya
semakin tinggi saat letaknya semakin jauh dari pagar masuk sekolah.
Q mengirim sms,
memberitahu Eka kalau q sudah sampai diluar pagar, Eka sempat tidak mau karena
malu, tapi q bilang q sudah diluar dan penasaran ingin ketemu. Karena
tawar-menawar yang berbelit-belit, q langsung menelepon dan menanyakan
posisinya. Suara yang ada di sekitar Eka sangat ribut [yang kemudian q tau
sedang ada kerja bakti membersihkan halaman kelas], sambil terus mencari
disebelah mana suara ribut itu berasal. Saat Eka menanyakan q dimana, di
belakang Eka q bisa dengar temannya berkata “yang pakai baju hitam” [sebenarnya
q memakai jaket hitam yang q gulung lengannya], dan Eka bertanya q yang “pakai
baju hitam?”, q bilang “pakai jaket hitam”, tapi di sekitar situ tidak ada
orang lain selain q. Q merasa sudah sangat dekat karena temannya terus bilang
“itu, dibawah” [posisi sekolahnya memang lebih tinggi, sekitar 3 meter]. Q coba mencari diantara teman-temannya yang sedang kerja
bakti, mencari cewek yang sedang berbicara lewat HP.
Saat q sulit
menemukan cewek yang sedang menelepon, q bertanya Eka dimana, dan Eka menjawab
“ditembok”. Q sadar q susah melihat cewek yang sedang menelepon karena Eka bersembunyi
dibalik pilar tembok yang cukup lebar. Disitu ada seorang cewek yang sedang
mengintip dengan posisi tangan sedang menelepon. Beberapa saat kemudian seorang
cewek berjalan menuju pagar di depan tempat q berdiri.
Cewek dengan
rambut se-lengan dan agak bergelombang, ber-hidung pesek dan pipi tembem ditambah
lesung di pipi kiri, bodinya berisi dan tingginya sekitar 170cm, memakai
seragam pramuka, tersenyum pada q dengan senyuman
manis yang-, kalau boleh mengutip kata-kata dari novel yang pernah q baca, -bisa membuat setiap cowok luluh lantah J.
Setelah sesaat q
terbuai karena senyuman yang ‘seperti magnet’ itu, q langsung bertanya sambil
menunjuk pada cewek tersebut, “Eka?”. “Iya” jawab Eka. Cewek montok yang q
lihat didepan q sangat berbeda kalau dibandingkan dengan foto profil media
sosialnya, lebih cantik [mungkin memang benar kata-kata yang berbunyi ‘lebih cantik
aslinya dari pada di foto’]. Karena gugup, q asal bicara dengan lidah
‘terpeleset’, dan lebih parah lagi q bahkan g ingat apa yang baru saja q
katakan. Penampilan perdana q hancur oleh lidah q yang ‘terpeleset’ dan terasa
membeku, yang membuat q kelihatan sangat konyol.
Baru bertemu sebentar,
Eka tiba-tiba berjalan ke arah lain karena wali kelas yang sedang mengawasi
siswa kerja bakti datang ke arah Eka berdiri. Q pun berjalan ke arah sudut
sekolah, karena takut juga sama wali kelasnya, dan hanya bisa bertanya lewat
sms [lagi]. Setelah beberapa kali sms-an, q disadarkan oleh jam pada hp yang
menunjukan pukul setengah sembilan lewat dan harus segera ke kantor, tapi masih
terus mengirim sms pada Eka. Saat sudah berada didalam angkot, Eka mengirim sms
yang menanyakan q berada dimana, dan saat q bilang didalam angkot dan mau ke
kantor ada sedikit nada kecewa dalam balasan pesan sms yang Eka kirim.
Perasaan
senang membawa q ke tempat kerja setelah bertemu seorang cewek yang menurut q
baik dan lucu. Ini adalah awal dari sebuah kisah yang tak akan pernah q
lupakan. Kisah yang menurut q... yang terbaik dibanding kisah cinta q yang
lain... walau kisah ini sekaligus manyakitkan... (Lanjut : Cinta Untuk Eka
(2)).
Catatan : - Huruf ‘q’ dibaca ‘aku/ku’. Bisa
juga dibaca ‘saya, gue, beta, me’, dll (yang punya arti sama).
- Huruf ‘g’
dibaca ‘tidak’. Bisa juga dibaca ‘gak, no, nyanda’, dll (yang punya arti sama).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar