Jumat, 11 April 2014

Cinta Untuk Eka (1)


Seperti malam biasanya, sambil menemani penyiar yang takut setan saat bertugas, q berselancar di dunia maya sambil online media sosial di kantor. Ruangan yang dingin karena AC membuat q hampir mengigil saat ada pesan masuk di akun media sosial q. Pesan itu berisi ucapan “sama-sama”, membalas pesan “terima kasih” yang q kirim beberapa hari sebelumnya [q mengirim permintaan pertemanan secara acak, jadi q tidak ingat sudah mengirim pemintaan kepada siapa saja]. Pesan dari akun bernama ‘Eka Utami’ itu juga berisi nomer HP yang dia berikan, “kalau butuh teman”, kira-kira begitu isi pesannya. Beberapa saat setelah itu q pun mengirim sms untuk mengetes nomer yang ia berikan, dan ternyata memang benar nomornya.
Ceritapun berlanjut dengan saling tanya tempat tinggal dan pekerjaan, dan ternyata cewek bernama ‘Eka’ itu kelas XI di SMA N 1, kebetulan kos tempat q tinggal hanya berjarak beberapa meter dengan sekolah itu jadi q tau. Setelah asik saling balas sms dalam perjalanan pulang menggunakan angkot dari kantor, Eka mengatakan “lagi nyari” dalam sebuah pesan sms yang ia kirim, dan q sempat g nyambung dengan apa yang Eka maksud sebenarnya. Semakin di pancing, q semakin tau apa yang Eka maksud, tapi q pura-pura g tau dan ingin Eka langsung bilang terus terang, dan akhirnya Eka bilang “lagi nyari pacar” [kesempatan, hehehe]. Q sempat bertanya kenapa Eka tidak mencari di sekolahnya, dan Eka hanya bilang sempat suka sama kakak kelas, tapi Eka malu.
Sejak hari itu q sering sms-an dengan Eka, bukannya mau serius tapi cuma perlu teman sebagai penghibur karena hati q juga saat itu sedang sakit karena seorang cewek, walaupun q tidak bilang sama Eka, dan mungkin Eka juga memang tak perlu tau. Beberapa hari berlalu, masih saling sms tanpa bertatap muka, sampai terpikir oleh q untuk mengajak ketemuan. Dari alasan yang dijadikan sebagai ‘tameng’ q tau Eka adalah tipe cewek pemalu, jadi tidak perlu dijelaskan bagaimana susahnya diajak ketemu, tapi Eka mau juga walau ketemuannya di sekolahnya.
Pada suatu pagi yang cerah, sekitar lima hari sejak pertama saling sms, q datang ke sekolahnya [q tetap diluar pagar sekolah] sambil menunggu dipinggir jalan. Lapangan sekolah dan beberapa gedung sekolah itu terletak berdekatan dengan pagar panjang yang menyusuri jalan di samping (atau depan) sekolah yang posisinya semakin tinggi saat letaknya semakin jauh dari pagar masuk sekolah.
Q mengirim sms, memberitahu Eka kalau q sudah sampai diluar pagar, Eka sempat tidak mau karena malu, tapi q bilang q sudah diluar dan penasaran ingin ketemu. Karena tawar-menawar yang berbelit-belit, q langsung menelepon dan menanyakan posisinya. Suara yang ada di sekitar Eka sangat ribut [yang kemudian q tau sedang ada kerja bakti membersihkan halaman kelas], sambil terus mencari disebelah mana suara ribut itu berasal. Saat Eka menanyakan q dimana, di belakang Eka q bisa dengar temannya berkata “yang pakai baju hitam” [sebenarnya q memakai jaket hitam yang q gulung lengannya], dan Eka bertanya q yang “pakai baju hitam?”, q bilang “pakai jaket hitam”, tapi di sekitar situ tidak ada orang lain selain q. Q merasa sudah sangat dekat karena temannya terus bilang “itu, dibawah” [posisi sekolahnya memang lebih tinggi, sekitar 3 meter]. Q coba mencari diantara teman-temannya yang sedang kerja bakti, mencari cewek yang sedang berbicara lewat HP.
Saat q sulit menemukan cewek yang sedang menelepon, q bertanya Eka dimana, dan Eka menjawab “ditembok”. Q sadar q susah melihat cewek yang sedang menelepon karena Eka bersembunyi dibalik pilar tembok yang cukup lebar. Disitu ada seorang cewek yang sedang mengintip dengan posisi tangan sedang menelepon. Beberapa saat kemudian seorang cewek berjalan menuju pagar di depan tempat q berdiri.
Cewek dengan rambut se-lengan dan agak bergelombang, ber-hidung pesek dan pipi tembem ditambah lesung di pipi kiri, bodinya berisi dan tingginya sekitar 170cm, memakai seragam pramuka, tersenyum pada q dengan senyuman manis yang-, kalau boleh mengutip kata-kata dari novel yang pernah q baca, -bisa membuat setiap cowok luluh lantah J.
Setelah sesaat q terbuai karena senyuman yang ‘seperti magnet’ itu, q langsung bertanya sambil menunjuk pada cewek tersebut, “Eka?”. “Iya” jawab Eka. Cewek montok yang q lihat didepan q sangat berbeda kalau dibandingkan dengan foto profil media sosialnya, lebih cantik [mungkin memang benar kata-kata yang berbunyi ‘lebih cantik aslinya dari pada di foto’]. Karena gugup, q asal bicara dengan lidah ‘terpeleset’, dan lebih parah lagi q bahkan g ingat apa yang baru saja q katakan. Penampilan perdana q hancur oleh lidah q yang ‘terpeleset’ dan terasa membeku, yang membuat q kelihatan sangat konyol.
Baru bertemu sebentar, Eka tiba-tiba berjalan ke arah lain karena wali kelas yang sedang mengawasi siswa kerja bakti datang ke arah Eka berdiri. Q pun berjalan ke arah sudut sekolah, karena takut juga sama wali kelasnya, dan hanya bisa bertanya lewat sms [lagi]. Setelah beberapa kali sms-an, q disadarkan oleh jam pada hp yang menunjukan pukul setengah sembilan lewat dan harus segera ke kantor, tapi masih terus mengirim sms pada Eka. Saat sudah berada didalam angkot, Eka mengirim sms yang menanyakan q berada dimana, dan saat q bilang didalam angkot dan mau ke kantor ada sedikit nada kecewa dalam balasan pesan sms yang Eka kirim.
Perasaan senang membawa q ke tempat kerja setelah bertemu seorang cewek yang menurut q baik dan lucu. Ini adalah awal dari sebuah kisah yang tak akan pernah q lupakan. Kisah yang menurut q... yang terbaik dibanding kisah cinta q yang lain... walau kisah ini sekaligus manyakitkan... (Lanjut : Cinta Untuk Eka (2)).

Catatan            : - Huruf ‘q’ dibaca ‘aku/ku’. Bisa juga dibaca ‘saya, gue, beta, me’, dll (yang punya arti                       sama).
               - Huruf ‘g’ dibaca ‘tidak’. Bisa juga dibaca ‘gak, no, nyanda’, dll (yang punya arti sama).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar