Rabu, 30 April 2014

Kisah Seorang Putri dan Penjual Kayu


            Alkisah, di sebuah negeri yang jauh hidup seorang putri yang sangat cantik dari sebuah kerajaan. Walau kerajaan itu sederhana, namun karena dipimpin oleh oRangtuasi putri, raja dan ratu yang bijak, rakyat kerajaan itu pun hidup makmur. Pada suatu hari,seorang bangsawan dari negeri seberang, yang belakangan ini sering dibicarakan oleh penduduk di seluruh negeri karena ketampanan dankeperkasaan sang bangsawan, datang untuk mElamar si putri. Si putriyang jatuh hati pada sang bangsawan pun menerima lamaran bangsawan tersebut dan merasa sangat senang. Sang bangsawan yang tinggal di negeri seberang harus kembali untuk membantu raja dan ratu di negerinya untuk menjalaNkan roda pemerintahan. Karena jarak yang cukup jauh antara negeri si putri dengan negeri sang bangsawan, mereka jarang bertemu dan lebih sering berkirim surat untuk mengetahui kabar satu sama lain.

            Setelah setahun tak bertemu, si putri yang merindukan sang bangsawan memutuskan untuk mengunjungi sang bangsawan. Si putri yangingin memberi kejutankepada sang bangsawan, merahasiakan kedatangannyadan menyamar sebagai rakyat jelata.Sesampainya di negeri seberang, si putri dikejutkan aCara pertunangan antarasang bangsawan dengan putri di negeri itu. Si putri yang kecewa, kembali ke negerinya dengan perasaan terluka. Saat sampai di negerinya, si putri tidak tinggal di istana, namun menyamar sebagai rakyat jelata karena tak ingin ditemukan oleh sang bangsawan. Tak ingin penyamarannya diketahuI oleh orang lain, terutama penghuni kerajaan, si putri memilih tinggal dengan seorang penjual kayu, yang berbeda dari oraNg lain di negeri yang makmur itu. Dengan wajah jelek, pakaian yang lusuh dan tinggal di rumah yang terbuat dari papan,si penjual kayu iTu hidup sendiri dan jauh dari penduduk lainnya.Si penjual kayu yang masih muda itu, menerima si putri yang meminta untuk tinggal, dengan setengah hati. Si putri menghabiskan hari-hari membantu si penjual kayu, mencAri dan menjual kayu kepada penduduk dekatistana.

            Setelah beberapa minggu, mereka akhirnya terbiasa satu sama lain. Si putri menyadari kalau si penjual kayu sebenarnya adalah orang yang baikhati. Si penjual kayu sElalu memperlakukan si putri dengan baik, membuat si putri tertawa, dan membuat si putri merasa nyaman berada di deKatnya, membuat si putri lupa pada luka di hatinya. Si penjual kayu juga merasa bahagia karena ada orang yang mengerti keadaannya. Lama kelamaan, si penjual kayu jatuh hati pada si putri, walau tak tau asal-usul gadis yang tinggal bersamanya itu.Si penjual kayu pun menceritakan bagaimana sebelumnya hatinya sering terluka oleh cinta, dan mengatakan tentang perasaannya pada si putri, namun si putri tak mengAtakan apa-apa.

            Suatu hari, saat menjual kayu di dekat istana, mereka bertemu sang bangsawanyang mengatakan iamenyeSal dan tak memiliki hubungan lagi dengan putri dari negeri tempatnya tinggal. Sang bangsawan pun mengatakan ia ingin kembali kepada si putri. MendEngar itu, si putri merasa bahagia. Si putri pun bersedia diajak kembali ke istana, tempat dimana seharusnya si putri berada.SeteLah beberapa hari kembali ke istana, saat si putri, sang bangsawan, raja dan ratu sedang merencanakan acara pernikahansi putri dengan sang bangsawan, seorang pengawal menghampiri mereka dan memberikan surat kepAda si putri. Kertas lusuh itu berisi tulisan‘cakar ayaM’, yang sebagian agak pudar karena terkena sesuatu yAng terlihat seperti tetesan-tetesan air :

Tuan Putri,
Terima kasih sudah mau menemaniku selama ini
Terima kasih juga telah mengerti keadaanku yang serba kekurangan
Maafkan aku karena telah membawa putri kedalam penderitaanku
Seandainya aku tau anda adalah seorang Putri,
aku tak akan membiarkan putri menjalani hidup susah bersamaku
Maaf atas kata-kata dan perbuatanku yang menyinggung putri
Semoga putri tak menderita lagi dan mendapatkan kehidupan yang bahagia
selamanya..
                                                                                                Penjual kayu

            Selain surat, ada juga sepotong kayu berbentuk hati dari si penjual kayu, sebagai simbol yang melambaNgkan si penjual kayu memberikan seluruh hatinya untuk si putri. Di tengah kayu berbentuk hati itu terdapat kata-kata, “Satu-satunya harta yang ku punya”. Terluka untuk kesekian kalinYa,si penjual kayu pun pergi meninggalkan negeri itu, pergi ke negeri yang lain, entah kemana, yang pasti tak akan pernah kembali lagi, kembali kepAda kisah yang menyakitkan.
Oleh : Arfan Ren

Tidak ada komentar:

Posting Komentar