Alkisah,
di sebuah negeri yang jauh hidup seorang putri
yang sangat cantik dari sebuah kerajaan. Walau kerajaan itu sederhana, namun
karena dipimpin oleh oRangtuasi putri, raja
dan ratu yang bijak, rakyat kerajaan itu pun hidup makmur. Pada suatu hari,seorang bangsawan dari negeri seberang, yang
belakangan ini sering dibicarakan oleh penduduk di seluruh negeri karena ketampanan
dankeperkasaan sang bangsawan, datang untuk
mElamar si putri. Si
putriyang jatuh hati pada sang bangsawan
pun menerima lamaran bangsawan tersebut dan
merasa sangat senang. Sang bangsawan yang
tinggal di negeri seberang harus kembali untuk membantu raja dan ratu di
negerinya untuk menjalaNkan roda pemerintahan. Karena jarak yang cukup jauh
antara negeri si putri dengan negeri sang bangsawan, mereka jarang bertemu dan lebih
sering berkirim surat untuk mengetahui kabar satu sama lain.
Setelah setahun tak bertemu, si putri yang merindukan sang
bangsawan memutuskan untuk mengunjungi sang
bangsawan. Si putri yangingin memberi
kejutankepada sang bangsawan, merahasiakan
kedatangannyadan menyamar sebagai rakyat jelata.Sesampainya di negeri seberang,
si putri dikejutkan aCara pertunangan antarasang bangsawan dengan putri di negeri itu. Si putri yang kecewa, kembali ke negerinya dengan
perasaan terluka. Saat sampai di negerinya, si
putri tidak tinggal di istana, namun menyamar sebagai rakyat jelata
karena tak ingin ditemukan oleh sang bangsawan.
Tak ingin penyamarannya diketahuI oleh orang lain, terutama penghuni kerajaan, si putri memilih tinggal dengan seorang penjual kayu, yang berbeda dari oraNg lain di
negeri yang makmur itu. Dengan wajah jelek, pakaian yang lusuh dan tinggal di
rumah yang terbuat dari papan,si penjual kayu iTu
hidup sendiri dan jauh dari penduduk lainnya.Si penjual
kayu yang masih muda itu, menerima si putri
yang meminta untuk tinggal, dengan setengah hati. Si
putri menghabiskan hari-hari membantu si penjual
kayu, mencAri dan menjual kayu kepada penduduk dekatistana.
Setelah beberapa minggu, mereka
akhirnya terbiasa satu sama lain. Si putri
menyadari kalau si penjual kayu sebenarnya
adalah orang yang baikhati. Si penjual kayu sElalu
memperlakukan si putri dengan baik, membuat si putri tertawa, dan membuat si putri merasa nyaman berada di deKatnya, membuat
si putri lupa pada luka di hatinya. Si penjual kayu juga merasa bahagia karena ada orang
yang mengerti keadaannya. Lama kelamaan, si penjual
kayu jatuh hati pada si putri, walau
tak tau asal-usul gadis yang tinggal bersamanya itu.Si penjual
kayu pun menceritakan bagaimana sebelumnya hatinya sering terluka oleh
cinta, dan mengatakan tentang perasaannya pada si
putri, namun si putri tak mengAtakan apa-apa.
Suatu hari, saat menjual kayu di
dekat istana, mereka bertemu sang bangsawanyang
mengatakan iamenyeSal dan tak memiliki hubungan lagi dengan putri dari negeri
tempatnya tinggal. Sang bangsawan pun
mengatakan ia ingin kembali kepada si putri.
MendEngar itu, si putri merasa bahagia. Si putri pun bersedia diajak kembali ke istana,
tempat dimana seharusnya si putri berada.SeteLah
beberapa hari kembali ke istana, saat si putri,
sang bangsawan, raja dan ratu sedang
merencanakan acara pernikahansi putri dengan
sang bangsawan, seorang pengawal menghampiri
mereka dan memberikan surat kepAda si putri.
Kertas lusuh itu berisi tulisan‘cakar ayaM’, yang sebagian agak pudar karena
terkena sesuatu yAng terlihat seperti tetesan-tetesan air :
Tuan Putri,
Terima kasih sudah mau menemaniku selama ini
Maafkan aku karena telah membawa putri kedalam penderitaanku
Seandainya aku tau anda adalah seorang Putri,
aku tak akan membiarkan putri menjalani hidup susah bersamaku
Maaf atas kata-kata dan perbuatanku yang menyinggung putri
Semoga putri tak menderita lagi dan mendapatkan kehidupan yang
bahagia
selamanya..
Penjual
kayu
Selain
surat, ada juga sepotong kayu berbentuk hati dari si penjual
kayu, sebagai simbol yang melambaNgkan si penjual
kayu memberikan seluruh hatinya untuk si
putri. Di tengah kayu berbentuk hati itu terdapat kata-kata,
“Satu-satunya harta yang ku punya”. Terluka untuk kesekian kalinYa,si penjual kayu pun pergi meninggalkan negeri itu,
pergi ke negeri yang lain, entah kemana, yang pasti tak akan pernah kembali
lagi, kembali kepAda kisah yang menyakitkan.
Oleh : Arfan Ren
Tidak ada komentar:
Posting Komentar